Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Sabtu, 22 Desember 2018

Biografi Aristoteles


ARISTOTELES


Aristoteles (bahasa Yunani: ‘Aριστοτέλης Aristotélēs), (384-322 SM) adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru   dari Alexander Agung. Ia menulis tentang berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logikaretorika,politikpemerintahanetnisbiologi dan zoologi. Bersama   dengan Socrates dan Plato, ia dianggap menjadi seorang di antara tiga orang filsuf yang paling berpengaruh di pemikiran Barat.
Aristoteles  di lahirkan di kota stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya seorang ahli fisika kenamaan dan dia juga menjadi tabib  pribadi raja Amyntas III dari Makedonia, kakek alexander agung. Namun ayahnya meninggal saat aristoteles berusia 15 tahun, karenanya aristoteles di asuh oleh pamannya  yaitu Proxenus saudara ayahnya. Pada usia 17 tahun ia menjadi murid plato selama 20 tahun di Athena,Dia dikenal sebagai murid yang cerdas dan unggul, Plato bahkan menyebutnya nous (semangat,jiwa).
Pada 342 SM, Aristoteles mendirikan sekolah miliknya yang disebutnya lyceum. Aristoteles melakukan cara pembelajaran yang berbeda dengan Plato. Plato mengutamakan perbincangan antara guru dan murid, sedangkan Aristoteles mengajak muridnya berjalan-jalan lalu mengamati sesuatu hal untuk kemudian dipersoalkan. Jalan-jalan ini disebut peripatetos dan cara yang diterapkan disebut peripatetika. Dalam hal ini,mulai terlihat bahwa Aristoteles beranggapan bahwa kenyataan particular harus menjadi pangkal tolak bagi usaha mencari pengetahuan dan pada akhirnya ilmu hanya dapat disusun sebagai landasan empiris.
Obsesi Aristoteles untuk menghimpun materi dan fakta dari kenyataan untuk ditempatkan dalam suatu klasifikasi menjadi sumbangan pada perkembangan ilmu umum. Demian juga dengan keharusan merumuskan definisi mengenai bahan kajian. Menurut Aristoteles, setiap definisi harus jelas dan harus terdiri dari dua bagian. Pertama, menggambarkan bahwa hal yang didefinisikan punya kesamaan dalam suatu penggolongan yang umum. Kedua, menggambarkan perbedaan yang khas dari penggolongan umum itu. Tanpa definisi yang baik, setiap pembahasan cenderung membjas tanpa arah sehingga tidak membawa pada penyelesaian persoalan yang sedang di geluti.


Selain definisi, pendekatan harus bertolak dari daya Logos (logika). Aristoteles juga memperkenalkan syllogisme (sologisme) sebagai salah satu cara berpikir dan menarik kesimpulan. Setiap sologisme terdiri dari premis mayor dan premis minor dan berdasarkan keduanya ditariklah kesimpulan. Bagi Aristoteles, kiat menarik kesimpulan yang tepat harus dikuasai oleh setiap orang yang berminat untuk melalui pengetahuannya sampai pada kebenaran ilmiah.
Berbeda dengan Plato yang mengutarakan pikirannya dengan Matra estetika, Aristoteles berpegang pada logika yang akhirnya mendudukkan dirinya sebagai peletak dasar bagi pemikiran ilmiah yang kemudian berlanjut dengan berkembangnya berbagai disiplin.
Aristoteles membagi kehidupan ke dalam tiga tahapan yaitu anima vegetativa, yaitu merupakan tahap dimana adanya tanda-tanda kehidupan yaitu adanya gerak pertumbuhan seperti pada tumbuhan ; anima sensitiva, yaitu tahap dimana terjadinya gerak sendiri (auto-kinesis) karena adanya kepekaan terhadap rangsangan melalui alat indera selain terjadinya pertumbuhan, seperti pada hewan ; dan yg terakhir adalah anima intellectiva yang mana merupakan tahap dimana mulai muncul kesadaran dan berkembangnya kecerdasan untuk mengolah suatu rangsangan, seperti yang ditunjukkan oleh manusia. 

Aristoteles jugalah yang mengajarkan bahwa kebiasaan merupakan kodrat kedua atau second nature pada manusia yang terbentuk melalui perinteraksian baik dengan alam maupun dengan sesama manusia. Kebiasaan ini sukar sekali untuk dilepaskan, oleh karena itu, pendidikan sangatlah berperan besar disini. Inilah yang membuat pemikiran tentang pendidikan aristoteles ini  lebih mengacu pada empirisme. 

Aristoteles juga menegaskan bahwa kita tidak mungkin untuk mengubah kodrat alami kita yang sudah ada sejak lahir. Namun dirinya sendiri dapat diubah dengan mengembangkan kebiasaannya sebagai kodrat kedua yang didapat dari lingkungannya. Aristoteles juga dapat digolongkan pada paham optimisme pedagogik yang serba mampu membentuk kepribadian seseorang. Aristoteles juga berjasa dalam pemikirannya tentang estetika atau keindahan yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuannya tentang psikologi. Aristoteles mengatakan bahwa kreasi seni pada dasarnya adalah tiruan dari suatu tampilan di alam nyata. Menurut aristoteles, seni mengandung makna katharsis yaitu penyaluran himpunan perasaan dan penghayatan batin keluar  yang tampil sebagai wujud artistik apabila disertai mantra estetika. Namun teori estetika milik aristoteles ini tidak dikembangkan lagi oleh para filsuf estetika

Setelah lama bertkutat dengan persoalan yang didasarkan pengalaman, Aristoteles pun mulai tergerak untuk memikirkan berbagai hal yang lebih rumit. Selain menggembangkan pemikiran tentang Tuhan dan monoteisme, Aristoteles mulai mendalami bidang etika. Bidang ini pun diuraikan secara realistis, yaitu kebijakan dalam kehidupan. Tujuan hidup bukannlah kebajikan demi mencapai kebahagiaan itu sendiri, melainkan kebajikan demi mencapai kebahagian dalam kehidupan.
Ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain adalah kemampuan kecerdasan dan penalarannya. Karena itu kebahagiaan hidup bagi manusia sangat bergantung dari apa yang didapatnya dari ciri khas itu. Kehidupan manusia yang bermatra etika harus ditandai oleh ikhtiar untuk menggembangkan kecerdasan dan penalarannya. Dengan deikian dia mampu menjernihkan pikirannya bilamana ingin menggambil keputusan.
Etika adalah acuan bagi manusia agar terhindar dari perilaku menyesatkan yag dapat menggangu kebahagiannya. Sebagai pedoman umum, Aristoteles mengganjurkan untuk menghindari perilaku berlebihan. Segala perilaku eksesif pasti berakhris destruktif. Keberanian yang berlebihan dapat membuat seseorang menjadi bertindak tanpa perhitungan. Sebaliknya setiap orang yang selalu takut bertindak akan sulit untuk bergerak.
Pendapat Aristoteles tentang etika itu juga ia kembangkan dalam uraiannya mengenai kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Seperti Socrates dan Plato, Ariatoteles juga berpendapat bahwa demokrasitelah berkembang secara berlebihan sehingga tidak lagi bisa menjamin tata Negara yang stabil. Demokrasi yang eksesif itu antara lain berakibat seringnya perubahan perundang undangan dan hukum yang berlaku karna lagi-lagi harus disesuaikan dengan tuntutan orang banyak. Padahal yang dibutukan adalah stabilitas
Menyaksikan gaya penerapan demokrasi gaya Athena yang ekspresif di zamannya, Aristoteles berkesimpulan bahwa demokrasi akan mengalami dekstrusi dengan sendirinya. Perkembangan demokrasi ini membawa Aristoteles pada pendapatnya bahwa tatanan Negara tidak mungkin terjalin stabil apabila nasibnya hanya ditentukan oleh banyaknya pendukung atau suara dan setiap saat diubah hanya untuk memenuhi kemauan mereka. Aristoteles beranggapan bahwa tatanan Negara harunya dikelola oleh orang yang pantas dan sanggup mengelolanya, pandangan Aristoteles ini tidak terlalu berbeda dengan pandangan Scorates dan Plato. Tapi lebih dari itu Aristoteles beranggapan bahwa manusia sejak lahir sudah berbeda-beda pembawaanya.
Demokrasi bisa mengakibatkan keterbalikan kedudukan, manakala kepemimpinan masyarakat dan negara tidak lagi berada dalam wibawa kaum arif-bijaksana, betapapun sedikit jumlah mereka. Dan kekuasaan akan beralih kepada mereka yang terpilih melalui suara terbanyak. Aristoteles tidak menentang pendapat adanya berbagai kesamaan antara sesama manusia dan kesamaan itu harus dihargai. Walaupun demikian, berbagai manusia itu tidak berarti bahwa manusia sama bakat dan kemampuannya. Perbedaan bakat dan kemampuan itu dapat diungkapkan melalui ikhtiar pendidikan.
Bagi Aristoteles seperti halnya Plato, demokrasi tidak bisa dilepaskan dari ikhtiar pendidikan. Artinya, melalui pendidikanlah akan muncul berbagai bakat dan kemampuan warga negara. Pendidikan harus mengutamakan tumbuhnya kesadaran dan ketaatan terhadap perundang-undangan dan hokum yang berlaku sehingga sejak dini setiap anak didik sudah disiapkan untuk menjadi warga negara yang mematuhi hokum yang berlaku. Menurut Aristoteles, pendidikan yang sanggup menumbukan kesetiaan pada perundang-undangan dan hokum yang berlaku niscaya akan berhasil untuk menyiapkan warga negara untuk menempati kedudukan kepemimpinan; sebab pemimpin yang baik bukan saja harus sanggup melaksanakan tugas berdasarkan hukum yang berlaku, melainkan dirinya sendiri harus bersedia mematuhinya.
Dalam usia lanjutnya, Aristoteles menghadapi banyak masalah . di satu pihak dia berselisih dengan Raja Alexander yang menjatuhkan hukuman mati kepada Kalisthenes karena dia menolak menyembah Alexander sebagai dewa. Pada 323 SM Raja Alexander wafat. Rakyat Athena yang sebelumnya merasa tertekan selama kekuasaan Alexander ikut bersukaria dan Athena menyatakan kemerdekaannya dari kekuasaan Macedonia. Bersamaan dengan itu , Aristoteles pun kehilangan perlindungan untuk tetap berada di tengah masyarakat Athena yang memusuhinya.
Aristoteles memutuskan untuk meninggalkan kota Athena dan mengasingkan diri, ini bukanlah tindakan pengecut, melainkan suatu kelaziman yang berlaku waktu itu, yaitu memberikan kesempatan pada seseorang untuk menghadapi pengadilan atau meninggalkan Athena untuk hidup dalam pengasingan.
Aritoteles memilih pengasingan karena ingin mencegah agar sejarah Athena tidak ternoda untuk kedua kali karena pengadilan menjatuhkan hukuman pada seorang filsuf pencari kebenaran.Akademi Plato dan Lyceum Aristoteles masih bertahan lama sepeninggal masing masing pendirinya, Namun, tidak lagi melahirkan pemikir pemikir yang berbobot seperti para pendahulunya. Akademi Plato bertahan hingga tahun 529 ketika Kaisar Justianus memerintahkan untuk menutupnya karena dianggap mengajarkan hal hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Namun, segala pemikiran yang berkembang sesudah era Aristoteles itu tenggelam dalam derasnya arus perdagangan antarnegara-yang berakibat lajunya pertumbuhan sejumlah kota besar sebagai pusat-pusat interaksi perdagangan. Sejalan dengan perkembangan , keadaan itu, filsafat di Yunani dan dunia barat tertidur selam berabad abad.





































8 komentar:

Biografi Aristoteles

ARISTOTELES Aristoteles  ( bahasa Yunani : ‘Aριστοτέλης  Aristotélēs ), (384-322 SM) adalah seorang  filsuf   Yunani , murid dari ...